Layanan 24 Jam Siap
Kontak 0811-328-028
Email admin@aqeqah.com

Risalah Aqiqah, Hukum & Manfaat Aqiqah

Risalah Aqiqah, rangkuman pedoman melaksanakan aqiqah, informasi seputar hukum aqiqah dan kapan waktu

risalah aqiqah; kambing aqiqah

kambing hewan untuk aqiqah

pelaksanaannya, insyaAllah bermanfaat bagi kita untuk tahu aqiqah. Dengan membaca risalah aqiqah kita akan mendapatkan ilmu tentang beraqiqah; pemilihan hewan aqiqah, waktu dan tempat, hukum dan hadits kami cantumnya disini.

Arti Aqiqah

Menurut bahasa (etimologi) Aqiqah) العَقِيْقَةُ ) berarti memutus ) اَ لْـقَطْعُ ) , adapun menurut istilah (terminologi) Syar’i ialah menyembelih seekor atau dua ekor domba atau kambing untuk anak pada hari ketujuh kelahirannya.[1]

Risalah Aqiqah: Dalil Disyariatkannya Aqiqah

Banyak hadits Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yang menerangkan tentang dalil aqiqah serta menguatkan syariat aqiqah dan kedudukannya didalam agama Islam, dan menghilangkan keraguan untuk melaksanakannya. Diantara dalil-dalil tersebut adalah sebagai berikut :

صحيح البخاري – (ج 17 / ص 121/ح 5049) و سنن الترمذي – (ج 5 / ص 480/ح 1434) و سنن ابن ماجه – (ج 9 / ص 334/ح 3155) و مسند أحمد – (ج 36 / ص 292/ح 17200) و المستدرك على الصحيحين للحاكم – (ج 17 / ص 454/ح 7701) :   حَدَّ ثَنَا أَ بُو النُّعْمَانِ حَدَّ ثَنَا حَمَّاد ُ بْنُ زَ يْدٍ عَنْ أَ يُّوبَ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ سَلْمَا نَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ مَعَ الْغُلَامِ عَقِيقَةٌ وَ قَالَ حَجَّاجٌ حَدَّ ثَنَا حَمَّاد ٌ أَخْبَرَ نَا أَ يُّوبُ وَ قَتَادَ ةُ وَ هِشَامٌ وَ حَبِيبٌ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ عَنْ سَلْمَانَ عَنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ قَالَ غَيْرُ وَ احِدٍ عَنْ عَاصِمٍ وَ هِشَامٍ عَنْ حَفْصَةَ بِنْتِ سِيرِينَ عَنِ الرَّ بَابِ عَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ الضَّبِّيِّ عَنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ رَ وَ اهُ يَزِيدُ بْنُ إِبْرَ اهِيمَ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ عَنْ سَلْمَانَ قَوْلَهُ وَ قَالَ أَصْبَغُ أَخْبَرَ نِي ابْنُ وَهْبٍ عَنْ جَرِيرِ بْنِ حَازِ مٍ عَنْ أَ يُّوبَ السَّخْتِيَانِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ حَدَّ ثَنَا سَلْمَانُ بْنُ عَامِرٍ الضَّبِّيُّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ) مَعَ الْغُلاَ مِ عَقِيقَةٌ فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا وَ أَمِيطُوا عَنْهُ اْلأَ ذَ ى (

Dari Salman bin Aamir Al-Dhobbiy t, ia berkata telah bersabda Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “Bersama seorang anak itu ada aqiqahnya, karena itu alirkanlah darah untuknya dan singkirkanlah gangguan daripadanya”.

مسند أحمد – (ج 41 / ص 55/ح 19225) و سنن أبي داود – (ج 8 / ص 16/ح 2454) و السنن الكبرى للبيهقي – (ج 9 / ص 299) و سنن الدارمي – (ج 6 / ص 106/ح 2021) : حَدَّ ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّ ثَنَا سَعِيدٌ وَ يَزِيدُ قَالَ أَخْبَرَ نَا سَعِيدٌ وَ بَهْزٌ حَدَّ ثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ   عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَ نَّهُ قَالَ   )   كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْ بَحُ عَنْه ُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَ قَالَ بَهْزٌ فِي حَدِيثِهِ وَ يُدَمَّى وَ يُسَمَّى فِيهِ وَ يُحْلَقُ قَالَ يَزِيدُ رَ أْسُهُ   (

Dari Samurah, ia berkata : Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda : Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, yang harus disembelih untuknya pada hari ketujuh dan diberinya nama si anak tersebut pada hari itu, serta dicukuri rambutnya”.

سنن الترمذي – (ج 5 / ص 479/ح 1433) و مسند أحمد – (ج 49 / ص 57/ح229021) و السنن الكبرى للبيهقي – (ج 9 / ص 303) و المستدرك على الصحيحين للحاكم – (ج 17 / ص 456/ح0 7703) و مصنف ابن أبي شيبة – (ج 5 / ص 530) :   حَدَّ ثَنَا يَحْيَى بْنُ خَلَفٍ الْبَصْرِيُّ حَدَّ ثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ أَخْبَرَ نَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ خُثَيْمٍ عَنْ يُوسُفَ بْنِ مَاهَكَ أَ نَّهُمْ دَخَلُوا عَلَى حَفْصَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ فَسَأَ لُوهَا عَنِ الْعَقِيقَةِ فَأَخْبَرَ تْهُمْ أَنَّ عَائِشَةَ أَخْبَرَ تْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ )   أَمَرَهُمْ عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَ عَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ (

Dari ‘Aisyah, ia berkata, telah bersabda Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “Untuk seorang anak laki-laki dua ekor kambing yang cukup, sedangkan untuk anak perempuan seekor kambing”.

نيل الأوطار – (ج 8 / ص 153/ح 2142) :   وَ فِي لَفْظٍ ) أَمَرَ نَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَنْ نَعُقَّ عَنِ الْجَارِيَةِ شَاةً وَ عَنِ الْغُلاَ مِ شَاتَيْنِ ( .رَوَ اهُ أَحْمَدُ وَ ابْنُ مَاجَه

Dan dalam lafadz yang lain (dikatakan) : “Kami diperintah Rasululllahصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ supaya memotong aqiqah seekor kambing untuk anak perempuan, dan untuk anak laki-laki dua ekor kambing”

نيل الأوطار – (ج 8 / ص 153/ح 2143) : وَ عَنْ أُمِّ كُرْزٍ الْكَعْبِيَّةِ ) أَ نَّهَا سَأَ لَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَنِ الْعَقِيقَةِ فَقَالَ : نَعَمْ عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ وَ عَنِ اْلأُ نْثَى وَ احِدَ ةٌ لاَ يَضُرُّ كُمْ ذُ كْرَ ا نًا كُنَّ أَوْ إنَا ثًا ( .رَوَ اهُ أَحْمَدُ وَ التِّرْمِذِيُّ وَ صَحَّحَهُ

Dan dari Ummi Kurs Al Ka’biyah, sesungguhnya ia pernah bertanya kepada Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tentang aqiqah? Maka jawab Rasulullah : “Ya!, untuk anak laki-laki dua ekor kambing dan untuk anak perempuan seekor, dan jangan memudhorotkan kamu, tidak mengapa kambing itu jantan atau betina”.

Risalah Aqiqah: Perbedaan Para Ulama Dalam Masalah Aqiqah

Pendapat pertama : Aqiqah itu sunnah, pendapat ini dipegang oleh Imam Malik, penduduk Madinah, Imam Syafi’I, Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsur dan sejumlah ahli fiqih, ahli ilmu dan ahli ijtihad lainnya. Argumentasi mereka berdasarkan pada hadits-hadits yang telah disebutkan dimuka mereka menolak pendapat yang mengatakan bahwa aqiqaah itu wajib dengan alasan berikut :

  • Seandainya aqiqah itu wajib, niscaya kewajibannya itu akan diketahui dari agama karena hal itu merupakan tuntutan dan akan dijelaskan oleh Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ kepada umat dengan hujjah yang cukup. Mereka menolak orang-orang yang berpendapat bahwa aqiqah itu wajib dengan berbagai alasan.
  • Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengaitkan masalah aqiqah dengan mencintai pelakunya. Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda :

مَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَنْسُكَ عَنْ وَ لَدِهِ فَـلْيَفْعَلْ

Barang siapa yang suka diantaramu berqurban untuk anaknya (maksudnya aqiqah) maka kerjakanlah

Kata مَنْ أَحَبَّ (barang siapa yang suka) dikaitkan dengan kemampuan seseorang tanpa pemaksaan sebagai sebuah kemudahan dan keringanan dalam pelaksanaannya sesuai kemampuan

  • Perbuatan-perbuatan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tidak menunjukkan bahwa aqiqah itu wajib. Semua perbuatan beliau hanya membuktikan bahwa aqiqah itu sunnah atau istahab (jika menyenanginya/ menyukainya)

Pendapat kedua : Aqiqah itu wajib, menurut Imam Hasan al Bashri, Lits Ibnu Sa’ad dan selain mereka. Alasan, mereka berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Buraidah, Ishaq dan Rahawiyah :

مسند الروياني – (ج 1 / ص 49/ ح 46 ) و المحلى – (ج 7 / ص 525) و سبل السلام – (ج 6 / ص 332) : نا محمد بن إسحاق ، أنا يعلى بن عبيد ، نا صالح بن حيان ، عن ابن بريدة ، عن أبيه قال : إنَّ النَّاسَ يُعْرَضُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى الْعَقِيقَةِ كَمَا يُعْرَضُونَ عَلَى الصَّلَوَ اتِ الْخَمْس  سبل السلام – (ج 6 / ص 332) : وَهَذَا دَلِيلٌ – لَوْ ثَبَتَ – لِمَنْ قَالَ بِالْوُجُوبِ .

Kelak pada hari kiamat, manusia akan diminta pertanggungjawabannya atas aqiqah seperti mereka dimintai pertanggung jawaban atas shalat lima waktu

Disamping itu mereka juga mengambil dalil dari hadits Samurah diatas :

مسند أحمد – (ج 41 / ص 55/ح 19225) و سنن أبي داود – (ج 8 / ص 16/ح 2454) و السنن الكبرى للبيهقي – (ج 9 / ص 299) و سنن الدارمي – (ج 6 / ص 106/ح 2021) : حَدَّ ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّ ثَنَا سَعِيدٌ وَ يَزِيدُ قَالَ أَخْبَرَ نَا سَعِيدٌ وَ بَهْزٌ حَدَّ ثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ   عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَ نَّهُ قَالَ  كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْ بَحُ عَنْه ُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَ قَالَ بَهْزٌ فِي حَدِيثِهِ وَ يُدَمَّى وَ يُسَمَّى فِيهِ وَ يُحْلَقُ قَالَ يَزِيدُ رَ أْسُهُ

Dari Samurah, ia berkata : Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda : Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, yang harus disembelih untuknya pada hari ketujuh dan diberinya nama si anak tersebut pada hari itu, serta dicukuri rambutnya”.

Kalimat (كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ ) yaitu setiap anak tergadai dengan aqiqahnya memperkuat bahwa amalan aqiqah tersebut wajib dilakukan. Karena kalimat tergadai disana berarti terbebas dari gangguan syetan, walaupun kalimat ini perlu dibahas dengan jelas karena tidak ada sebuah perbuatanpun yang membuat kita bisa bebas dari gangguan setan kecuali dengan berlindung terus menrus kepada Allah secara istiqamah dengan ilmu, doa dan amal yang jelas berdasarkan Qur’an dan Sunnah. Dan Imam Al Bashri menguatkan bahwa posisi kalimat seorang anak tergadai dengan aqiqahnya adalah bahwa seorang anak tidak akan bisa memberi syafaat kepada kedua orang tuanya sebelum mereka diaqiqahi, hal ini membuktikan menurut golongan ini aqiqah itu wajib.

Pendapat ketiga : Aqiqah itu tidak disyariatkan atau jelas-jelas mereka menolak, hal ini dianut oleh mereka yang bermadzhab Hanafi. Dalil mereka adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi, dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah ditanya tentang aqiqah, lalu beliau menjawab :

لاَ أُحِبُّ الْعُقُوق

” Aku tidak menyenangi aqiqah “

Selain itu mereka jugaa berdalil dengan hdits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari hadits Abi Rafi, bahwa ketika Hasan bin Ali lahir maka Fatimah, akan beraqiqah dengan dua ekor kambing lalu Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda :

 لاَ تَعُقِّي عَنْهُ وَ لَكِنْ اِحْلِقِي شَعْرَ رَ أْسِهِ فَتَصَدَّقِي بِوَزْنِهِ مِنْ الْوَرِقِ ثُمَّ وُلِدَ حُسَيْنٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَصَنَعَتْ مِثْلَ ذَلِكَ

“Janganlah engkau meng-aqiqahinya, tetapi guntinglah rambutnya lalu engkau timbang bersama rambut itu perak sebagai ganti berat rambut, dan sedekahkanlah”. Kemudian Husen bin Ali lahir, dan Fatimah kembali melakukan seperti itu.

Namun jika kita bersikap lebih kritis lagi, zhahir hadits-hadits yang telah disebutkan menguatkan aspek ber-aqiqah itu adalah sunah hal ini sesuai dengan pendapat mayoritas ahli fiqih, ahli ilmu dan ahli ijtihad. Hadits-hadits Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yang digunakan sebagai dalil penolakan oleh orang-orang bermadzhab Hanafi terhadap aqiqah telah dijawab oleh para ulama dengan ucapannya : “ Hadits-hadits yang mereka jadikan dalil itu tidak kuat dan tidak sah dijadikan bukti pengingkaran disyariatkannya aqiqah, karena kurang pasnya pemahaman terhadap hadits tersebut “.

Adapun hadits Amru Ibnu Syuaib dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda : ( لاَ أُحِبُّ الْعُقُوق ) “Aku tidak menyenangi aqiqah” , konteks hadits dan ashabulwurudnya menunjukkan bahwa aqiqah adalah sunnah. Sebenarnya matan lengkap hadits itu sebagai berikut :

وَ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ  : سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَنِ الْعَقِيقَةِ ، فَقَالَ : لاَ أُحِبُّ الْعُقُوقَ وَ كَأَ نَّهُ كَرِهَ اْلاِسْمَ ، فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ إ نَّمَا نَسْأَ لُكَ عَنْ أَحَدِنَا يُولَدُ لَهُ ، قَالَ : مَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَنْسُكَ عَنْ وَ لَدِهِ فَلْيَفْعَلْ عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافَأَتَانِ وَ عَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ.

Dan dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata : Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah ditanya tentang hukum aqiqah, maka jawabnya : “Aku tidak suka aqiqah” [2]. Seolah-olah ia membenci nama itu. Mereka (para sahabat) bertanya : “Ya Rasulullah! Kami bertanya kepadamu tentang salah seorang diantara kami yang mempunyai anak yang baru lahir”. Maka Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda : ” Barang siapa yang suka beraqiqah untuk anaknya maka kerjakanlah, yaitu untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang cukup, dan untuk anak perempuan seekor kambing”.

Adapun bantahan pendapat mereka terhadap kurang pasnya pemahaman terhadap hadits Abi Rafi, bahwa ketika Hasan bin Ali lahir maka Fatimah t, akan beraqiqah dengan dua ekor kambing lalu Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda

لاَ   تَعُقِّي عَنْهُ وَ لَكِنْ اِحْلِقِي شَعْرَ رَ أْسِهِ فَتَصَدَّقِي بِوَزْنِهِ مِنْ الْوَرِقِ ثُمَّ وُلِدَ حُسَيْنٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَصَنَعَتْ مِثْلَ ذَلِكَ

“Janganlah engkau meng-aqiqahinya, tetapi guntinglah rambutnya lalu engkau timbang bersama rambut itu perak sebagai ganti berat rambut, dan sedekahkanlah”.

Kemudian Husen bin Ali lahir, dan Fatimah ra kembali melakukan seperti itu.

Hadits ini menunjukkan dengan lebih jelas lagi, bahwa Fatimah ra ketika melahirkan Hasan dan Husen dalam keadaan sulit secara harta dan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tidak mau memberatkan putrinya yang kondisi hartanya pas-pasan, hal ini juga menjadi hukum bagi kita jika tidak mampu cukuplah dengan mencukur rambutnya, kemudian timbang beratnya dan sesuaikan berat timbangan rambutnya dengan harga perak serta sedekahkan.

Adapun jika kakeknya lebih mampu dan berkecukupan daripada orang tuanya si anak kemudian mengaqiqahi cucunya tidaklah mengapa, hal itu sebagai bukti tanda kasih sayang dari seorang kakek kepada seluruh keluarganya, lihat hadits dibawah ini :

نيل الأوطار – (ج 8 / ص 159/ح 2147) : وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ  أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَقَّ عَنِ الْحَسَنِ وَ الْحُسَيْنِ كَبْشًا كَبْشًا  . رَ وَ اهُ أَ بُو دَ اوُد وَ النَّسَائِيُّ وَ قَالَ : بِكَبْشَيْنِ كَبْشَيْنِ

Dari Ibnu Abbas : Sesungguhnya Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyembelih aqiqah untuk Hasan dan Husen, masing-masing seekor kambing (HR Abu Daud dan Nasa’i, tetapi Nasa’i berkata masing-masing dua ekor)

Ringkasnya, mengaqiqahi anak itu sunnah menurut mayoritas para ulama dan ahli fiqih. Oleh karena itru, bagi orang tua yang dianugrahi anak yang baru lahir dan kebetulan mampu untuk menghidupkan sunnah Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, lakukanlah. Semoga mendapatkan pahala disi Allah, sehingga menambah kecintaan dan keakraban dalam ikatan sosial antara sanak famili, kerabat, dan handai taulan, pada saat menghadiri walimah aqiqah dalam menyambut kelahiran bayi dan bergembira serta memohon restu kepada semuanya agar dapat mendidiknya sesuai amanah Allah dan Rasulnya. Disamping itu juga dapat mewujudkan sumbangan jaminan social kepada fakir miskin dan mereka yang papa / kurang harta turut ambil bagian dalam acara tersebut. Inilah sebagian kecil syariat Islam yang membina hubungan sosial budaya dalam kemasyarakatan.

Risalah Aqiqah: Waktu Yang Disunnahkan Untuk Aqiqah

مسند أحمد – (ج 41 / ص 55/ح 19225) و سنن أبي داود – (ج 8 / ص 16/ح 2454) و السنن الكبرى للبيهقي – (ج 9 / ص 299) و سنن الدارمي – (ج 6 / ص 106/ح 2021) : حَدَّ ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّ ثَنَا سَعِيدٌ وَ يَزِيدُ قَالَ أَخْبَرَ نَا سَعِيدٌ وَ بَهْزٌ حَدَّ ثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ   عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَ نَّهُ قَالَ كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْ بَحُ عَنْه ُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَ قَالَ بَهْزٌ فِي حَدِيثِهِ وَ يُدَمَّى وَ يُسَمَّى فِيهِ وَ يُحْلَقُ قَالَ يَزِيدُ رَ أْسُهُ

Dari Samurah , ia berkata : Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda : Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, yang harus disembelih untuknya pada hari ketujuh dan diberinya nama si anak tersebut pada hari itu, serta dicukuri rambutnya”.

Hadits samurah ini mengandung pengertian bahwa waktu yang disunnahkan untuk menyembelih aqiqah dan pemberian nama serta dicukuri rambutnya adalah pada hari ketujuh setelah dilahirkan. Hadits lain yang menguatkan seperti dibawah ini :

نيل الأوطار – (ج 8 / ص 159/ح2145) : وَ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ  أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِتَسْمِيَةِ الْمَوْلُودِ يَوْمَ سَابِعِهِ وَوَضْعِ الْأَذَى عَنْهُ وَالْعَقِّ .رَ وَ اهُ التِّرْمِذِيُّ وَ قَالَ : حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ

Dan dari Amr bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya : Sesungguhnya Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyuruh memberi nama seorang anak pada hari ke tujuhnya dan menghilangkan gangguan dari padanya serta (menyuruh) dipotong (kambing)

Perkataan “dan menghilangkan gangguan padanya” itu maksudnya adalah cukurlah rambutnya, tetapi Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Baari : Yang lebih tepat ‘gangguan’ itu diartikan umum, daripada sekedar mencukur rambut.

Perkataan “menyuruh potong kambing pada hari ketujuh” menunjukkan bahwa waktu aqiqah itu ialah hari ketujuh sesudah kelahiran. Tetapi Tirmidzi meriwayatkan dari kalangan ahli ilmu, bahwa menyembelih ‘aqiqah pada hari ketujuh itu adalah sunnah, kalau tidak dapat hendaknya pada hari ke empat belas, dua puluh satu dan seterusnya. Dan Rafi’ meriwayatkan : bahwa mulai masuk waktunya ialah sejak kelahiran bayi tersebut. Dan Imam Syafi’I mengatakan bahwa aqiqah itu tidak boleh lebih dari hari ke tujuh, kalau terlambat gugurlah aqiqahnya itu dari orang yang hendak beraqiqah, tetapi kalau dia berkehendak mengaqiqahi dirinya sendiri silahkan waktunya tidak terbatas karena Nabi juga mengaqiqahi dirinya di Usia 40 tahun. Pendapat lainnya dari Imam Malik bahwa hari ketujuh itu sunnahnya melihat dari Zhahir hadits diatas, apabila orang itu bisa melakukan pada hari ke empat, hari ke delapan atau hari kedua belas, silahkan tidak mengapa hal ini berdasarkan sabda Rasulullah untuk urusan yang berhubungan dengan social kemasyarakatan : permudahlah jangan kau persulit , selama ada landasan hukumnya yang kuat.”

Jelaslah sudah banyak kemudahan dalam melaksanakan aqiqah ini tanpa harus saling berbantahan, lihat firman Allah :

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَ لاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْر [البقرة/185]

Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian

وَ مَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَج [الحج/78]

” Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan bagi kalian dalam urusan beragama suatu kesempitan”

Risalah Aqiqah: Apakah Aqiqah Untuk Anak Laki-laki dan Perempuan Boleh Sama Jumlahnya?

سنن الترمذي – (ج 5 / ص 479/ح 1433) و مسند أحمد – (ج 49 / ص 57/ح229021) و السنن الكبرى للبيهقي – (ج 9 / ص 303) و المستدرك على الصحيحين للحاكم – (ج 17 / ص 456/ح0 7703) و مصنف ابن أبي شيبة – (ج 5 / ص 530) :   حَدَّ ثَنَا يَحْيَى بْنُ خَلَفٍ الْبَصْرِيُّ حَدَّ ثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ أَخْبَرَ نَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ خُثَيْمٍ عَنْ يُوسُفَ بْنِ مَاهَكَ أَ نَّهُمْ دَخَلُوا عَلَى حَفْصَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ فَسَأَ لُوهَا عَنِ الْعَقِيقَةِ فَأَخْبَرَ تْهُمْ أَنَّ عَائِشَةَ أَخْبَرَ تْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ )   أَمَرَهُمْ عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَ عَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ (

Dari ‘Aisyah, ia berkata, telah bersabda Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “Untuk seorang anak laki-laki dua ekor kambing yang cukup, sedangkan untuk anak perempuan seekor kambing”.

نيل الأوطار – (ج 8 / ص 153/ح 2142) :   وَ فِي لَفْظٍ ) أَمَرَ نَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَنْ نَعُقَّ عَنِ الْجَارِيَةِ شَاةً وَ عَنِ الْغُلاَ مِ شَاتَيْنِ ( .رَوَ اهُ أَحْمَدُ وَ ابْنُ مَاجَه

Dan dalam lafadz yang lain (dikatakan) : “Kami diperintah Rasululllah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ supaya memotong aqiqah seekor kambing untuk anak perempuan, dan untuk anak laki-laki dua ekor kambing”

نيل الأوطار – (ج 8 / ص 153/ح 2143) : وَ عَنْ أُمِّ كُرْزٍ الْكَعْبِيَّةِ ) أَ نَّهَا سَأَ لَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَنِ الْعَقِيقَةِ فَقَالَ : نَعَمْ عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ وَ عَنِ اْلأُ نْثَى وَ احِدَ ةٌ لاَ يَضُرُّ كُمْ ذُ كْرَ ا نًا كُنَّ أَوْ إنَا ثًا ( .رَوَ اهُ أَحْمَدُ وَ التِّرْمِذِيُّ وَ صَحَّحَهُ

Dan dari Ummi Kurs Al Ka’biyah, sesungguhnya ia pernah bertanya kepada Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tentang aqiqah? Maka jawab Rasulullah : “Ya!, untuk anak laki-laki dua ekor kambing dan untuk anak perempuan seekor, dan jangan memudhorotkan kamu, tidak mengapa kambing itu jantan atau betina”.

Hadits-hadits tersebut pada globalnya menjelaskan dua hal pokok : Pertama, disyariatkan aqiqah bagi lelaki sama dengan perempuan. Kedua, perbedaannya untuk lelaki dua ekor dan untuk perempuan satu ekor. Tetapi menurut Imam Malik, aqiqah untuk anak lelaki juga boleh satu ekor sama dengan wanita apabila memang mampunya hanya untuk satu ekor, hal disandarkan kepada hadits berikut ini :

نيل الأوطار – (ج 8 / ص 159/ح 2147) : وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَقَّ عَنِ الْحَسَنِ وَ الْحُسَيْنِ كَبْشًا كَبْشًا . رَ وَ اهُ أَ بُو دَ اوُد وَ النَّسَائِيُّ

Dari Ibnu Abbas t : Sesungguhnya Nabi  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyembelih aqiqah untuk Hasan dan Husen, masing-masing seekor kambing (HR Abu Daud dan Nasa’i)

potong rambut aqiqah

potong rambut aqiqah

Ringkasnya, orang yang dikaruniai rezeki dan nikmat yang banyak oleh Allah hendaklah mengaqiqahi anak lelakinya dua ekor kambing dan anak perempuannya satu ekor kambing sebagaimana ditetapkan oleh hadits Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengenai perbedaan diantara keduanya. Dan barangsiapa keadaan ekonominya terbatas, cukup untuk anak lelaki satu ekor dan untuk perempuan satu ekor. Lakukanlah apa adanya. Sampai tidak mampu aqiqahpun tidak mengapa minimal kita mengamalkan hadits yang satunya lagi :

نيل الأوطار – (ج 8 / ص 163/ح 2148) : وَ عَنْ أَبِي رَ افِعٍ  أَنَّ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا لَمَا وُلِدَ أَرَ ادَتْ أُمُّهُ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللَّه ُ عَنْهَا أَنْ تَعُقَّ عَنْهُ بِكَبْشَيْنِ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : لاَ تَعُقِّي عَنْهُ وَ لَكِنْ اِحْلِقِي شَعْرَ رَ أْسِهِ فَتَصَدَّ قِي بِوَزْنِهِ مِنْ الْوَرِقِ ثُمَّ وُلِدَ حُسَيْنٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَصَنَعَتْ مِثْلَ ذَلِكَ . رَوَاهُ أَحْمَدُ

Dari Abi Rafi : Sesungguhnya Hasan bin Ali t ketika lahir, ibunya yaitu Fatimah t bermaksud hendak mengaqiqahi dengan dua ekor kambing, lalu Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda : “Jangan engkau aqiqahi dia, tetapi cukurlah rambutnya lalu bersedakahlah dengan perak seberat rambutnya”. Kemudian Husen bin Ali lahir, dan Fatimah berbuat seperti itu juga (HR Ahmad).

Beberapa orang yang menentang mengatakan : Kenapa Islam membeda-bedakan anak lelaki dan anak perempuan dalam jumlah aqiqah?, kenapa terjadi perbedaan ?. Jawaban dari orang yang menagatakan hal tersebut bias dilihat dari beberapa aspek.

  • Seorang Muslim harus tunduk, patuh, berserah diri (taslim) terhadap apa yang diperintahkan agama dan apa yang dilarangnya. Hal ini mempraktekan firman Allah dan sabda Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :

فَلاَ وَرَ بِّكَ لاَ يُؤْ مِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوا فِي أَ نْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَ يُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [النساء/65]

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

صحيح البخاري – (ج 15 / ص 493/ح 4675) و صحيح مسلم – (ج 7 / ص 175/ح 2487) :   حَدَّ ثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْ يَمَ أَخْبَرَ نَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ أَخْبَرَ نَا حُمَيْدُ بْنُ أَبِي حُمَيْدٍ الطَّوِيلُ أَ نَّهُ سَمِعَ أَ نَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ   قَالَ   رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ     فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَـلَيْسَ مِنِّي

Dari Anas bin Malik, ia berkata, telah bersabda Rasulullah : “Barang siapa yanag membenci sunnahku, maka dia tidak termasuk golonganku”.

صحيح مسلم – (ج 7 / ص 42/ح 2380) و صحيح البخاري – (ج 22 / ص 255/ح 6744) : حَدَّ ثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّ ثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَ نَا الرَّ بِيعُ بْنُ مُسْلِمٍ الْقُرَشِيُّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ أَبِي هُرَ يْرَ ةَ قَالَ … قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَإِذَ ا أَمَرْ تُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْ تُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَ إِذَ ا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَدَعُوهُ

Dari Abu Hurairah, ia berkata Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda : “Jika aku memerintahkan kepada kalian untuk mengerjakan sesuatu maka kerjakanlah sesuai dengan kemampuan kalian. Dan apa yang aku larang untuk kalian kerjakan, maka jauhilah “.

  • Agaknya hikmah dan rasionalitas perbedaan ini menunjukkan keutamaan kaum lelaki atas kaum perempuan dalam kekuatan fisik yang dianugrahkan Allah dan karena dibebaninya dengan hak mengayomi dan memikul tanggung jawab, dan karenanya diberi keseimbangan dan keteguhan emosi, benarlah firman Allah :

الرِّجَالُ قَوَّ امُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَ بِمَا أَ نْفَقُوا مِنْ أَمْوَ الِهِمْ [النساء/34]

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.

  • Berkumpulnya orang-orang pada acara aqiqah anak yang baru lahir menguatkan tertanamnya rasa kasih sayang dan kecintaan di samping memperkuat bantuan jaminan sosial ditengah-tengah orang-orang yang fakir miskin dan papa.

Risalah Aqiqah: Ketentuan Umum Yang Menyangkut Aqiqah [3]

Berikut ini adalah ketentuan-ketentuan umum yang berhubungan dengan aqiqah yang harus diperhatikan dan dipelihara. Para Ulama sepakat bahwa hal-hal yang diperbolehkan didalam Aqiqah sama dengan yang diperbolehkan didalam Qurban.

  • Umur sembelihan. Jika kambing atau biri-biri atau domba hendaknya sudah berumur 1 tahun atau memasuki 2 tahun, jika tubuhnya besar dan gemuk, maka aqiqah itu sah walaupun biri-biri itu naru berumur enam bulan dengan syarat, bila bercampur dengan biri-biri yang satu tahun biri-biri tersebut sulit dibedakan. Adapun kambing sah bila minimal berumur satu tahun dan belum memasuki dua tahun.
  • Hendaknya binatang sembeliah itu tidak cacat. Tidak sah binatang sembelihan yang buta total, buta sebelah, kurus kering dan binatang pincang. Behitu juga tidak sah yang telinganya dan ekornya terpotong, atau bunting lebih dari sepertiga. Juga tidak sah hewan yang ompong, tidak bertelinga, dan gila. Adapun Hewan yang cacat sedikit boleh saja, seperti binatang yang telinganya luka, tanduknya patah, pincang yang masih gesit berjalan, giginya ompong tetapi masih lebih banyak yang ada, telinga dan ekornya bunting tetapi masih ada sepertiganya. Semuanya sah disembelih.
  • Adapun binatang aqiqah berupa sapi, kerbau dan unta. Umur kerbau dan sapi tidak sah kecuali yang sudah berumur dua tahun dan memasuki tahun ketiga, sedangkan unta yang sudah berumur lima tahun dan yang memasuki enam tahun, yang perlu diperhatikan, pertama : tidak boleh dalam beraqiqah dengan royong-royong untuk tujuh orang. Sebab sekiranya diperbolehkan kooperatif, niscaya tidak tercapai maksud mengalirkan darah aqiqah untuk anak selama sembelihan itu sebagai tebusan anak, kedua : kambing, sapi, atau kerbau sah disembelih dengan syarat sembelihan salah satu binatang itu untuk satu anak. Alasan yang membolehkan aqiqah dengan unta sapi dan kerbau adalah hadits yang diriwayatkan Salman :

صحيح البخاري – (ج 17 / ص 121/ح 5049) و سنن الترمذي – (ج 5 / ص 480/ح 1434) و سنن ابن ماجه – (ج 9 / ص 334/ح 3155) و مسند أحمد – (ج 36 / ص 292/ح 17200) و المستدرك على الصحيحين للحاكم – (ج 17 / ص 454/ح 7701) :   حَدَّ ثَنَا أَ بُو النُّعْمَانِ حَدَّ ثَنَا حَمَّاد ُ بْنُ زَ يْدٍ عَنْ أَ يُّوبَ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ سَلْمَا نَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ مَعَ الْغُلَامِ عَقِيقَةٌ وَ قَالَ حَجَّاجٌ حَدَّ ثَنَا حَمَّاد ٌ أَخْبَرَ نَا أَ يُّوبُ وَ قَتَادَ ةُ وَ هِشَامٌ وَ حَبِيبٌ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ عَنْ سَلْمَانَ عَنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ قَالَ غَيْرُ وَ احِدٍ عَنْ عَاصِمٍ وَ هِشَامٍ عَنْ حَفْصَةَ بِنْتِ سِيرِينَ عَنِ الرَّ بَابِ عَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ الضَّبِّيِّ عَنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ رَ وَ اهُ يَزِيدُ بْنُ إِبْرَ اهِيمَ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ عَنْ سَلْمَانَ قَوْلَهُ وَ قَالَ أَصْبَغُ أَخْبَرَ نِي ابْنُ وَهْبٍ عَنْ جَرِيرِ بْنِ حَازِ مٍ عَنْ أَ يُّوبَ السَّخْتِيَانِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ حَدَّ ثَنَا سَلْمَانُ بْنُ عَامِرٍ الضَّبِّيُّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُولُ  مَعَ الْغُلاَ مِ عَقِيقَةٌ فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا وَ أَمِيطُوا عَنْهُ اْلأَ ذَ ى

Dari Salman bin Aamir Al-Dhobbiy t, ia berkata telah bersabda Nabi  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “Bersama seorang anak itu ada aqiqahnya, karena itu alirkanlah darah untuknya dan singkirkanlah gangguan daripadanya”.

Dan Rasul tidak menyebutkan spesifikasi darah tertentu, yang jelas ada sembelihan entah itu kambing, sapi atau unta.

  • Sebagian ahli fiqih berpendapat tidak sah beraqiqah dengan selain kambing atau yang sejenis, sesuai dengan ketentuan hadits yang banyak diriwayatkan dan dengan sanad yang kuat.
  • Sahnya Aqiqah sama dengan sahnya berkurban dari segi memakannya, menyedekahkannya, dan memberikan hadiahnya.
  • Disunahkan atas nama anak. Sembelihan aqiqah disunahkan atas nama anak itu , jika penyembelih aqiqah sudah berniat, tetapi tidak menyebut nama anak yang dimaksud, tidaklah menjadi soal, dan dengan begitu niat telah tercapai.

Risalah Aqiqah: Hikmah Disyariatkannya Aqiqah

Aqiqah itu mempunyai manfaat dan hikmah antara lain :

  • Sebagai wujud rasa syukur kehadirat Allah atas karunia yang telah diberikanNya yaitu berupa anak.
  • Sebagai pengorbanan untuk mendekatkan anak kepada Allah sedini mungkin, sejak awal mengarungi kehidupan. Dan membiasakan diri bagi orang tua/wali nya untuk berkurban.
  • Sebagai tebusan si anak dari berbagai musibah dan bencana, sama dengan Allah menebus Ismail u dengan sembelihan yang agung.
  • Sebagai pembuka penggadai anak pada kesempatan syafaat bagi kedua orang tuanya
  • Menampakkan kegembiraan dan optimisme untuk menegakkan syariat Islam dan menghembuskan keimanan kepada saudara-saudaranya.
  • Menguatkan ikatan keakraban dan kecintaan sesama anggota masyarakat karena berkumpulnya mereka dihadapan hidangan yang disediakan artinya bergembira ria menyambut anak yang baru lahir.
  • Menjalin kembali solidaritas sosial yang merupakan perwujudan sendi-sendi keadilan ditengah-tengah masyarakat dan upaya mengurangi kemiskinan dan kepapaan. Wallahu ‘Alam.
Sumber Risalah Aqiqah : http://dedendida.blogspot.co.id
[1] Dr Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyatul Aulad fil Islaam diterjemahkan dengan judul Pemeliharaan Kesehatan Jiwa Anak,halaman 70, Cetakan II, 1992, Remaja Rosda Karya, Bandung

[2] Dari zhahir hadits ini, segolongan fuqaha mengambil dalil bahwa kata-kata aqiqah itu diganti dengan Nasikah karena Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, tidak menyukai nama aqiqah. Kelompok lain mengatakan bahwa Rasulullahصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tidak membenci nama itu, tapi dia membenci kalau yang melaksanakan aqiqah itu dipaksakan tidak sesuai dengan kemampuannya, tapi laksanakan seperti Fatimah melaksanakannya yaitu cukup dengan mencukur rambut dan berat timbangan rambutnya disesuaikan dengan harga perak lalu sedekahkan. dan banyak juga matan hadits yang menyebutkan dengan kata aqiqah, hal ini menunjukkan bahwa nabi tidak benci hal tersebut, penulis berpendapat ucapan yang kedua ini masuk diakal dan shahih.

[3] Dr Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyatul Aulad fil Islaam diterjemahkan dengan judul Pemeliharaan Kesehatan Jiwa Anak,halaman 83, Cetakan II, 1992, Remaja Rosda Karya, Bandung
×
''